Sebelumnya ini adalah sebuah curhat galau orang tua, yang tidak berdaya secara ekonomi dan power. Ini murni pengalaman saya, yang sempat tidak dapat tidur berhari-hari dibayangi tekanan emosi yang cukup berat untuk saya. Kerepotan saya karena krn keterbatasan keuangan, keterbatasan tempat, dan status sebagai foreigner yang membuat kami tidak mudah membuat sebuah pilihan
Sekolah pilihan
Alasan saya dulu memilih sekolah anak saya
1. Good environment (dalam hal ini saya memilih sekolah dengan isi murid-murid yang baik, tidak bergaya borjuis, masih kental dengan nilai kebersamaan, saling menghormati)
2. Affordable price (suami yang bekerja sebagai tenaga IT tidak memiliki kemewahan layaknya para ekspat Indonesia yang bekerja sebagai oil engineer yang mendapat gratis biaya sekolah anak-anak sehingga bisa memasukkan ke sekolah dengan biaya min 120 jt/tahun saat itu)
Keinginan saya memasukkan anak di sekolah swasta yang terjangkau, memiliki kelas kecil, sebenarnya karena saya takut anak-anak mendapat bullying di sekolah. Mengingat jaman dulu sering mendengar curhat beberapa teman yang anaknya pendapat perlakuan yang kurang nyaman di sekolah milik pemerintah. Kebijakan sekolah waktu itu bahwa school fee akan tetap seperti yang dikenakan di awal masuk, membuat saya lega, paling tidak saya merasa mampu menyekolahkan anak sampai lulus SD di tempat tersebut. Tetapi kemudian terjadi hal yang menyedihkan, manajemen berganti, kepemilikan berpindah, jadi kebijakan di awal menjadi tidak berlaku, tepat di tengah tahun kedua anak saya bersekolah disana.