Pages

Thursday, December 5, 2013

Mendampingi saat Stress Melanda

Bisa dibilang saya punya siklus itu dan rasanya seperti sekolah ujiannya semakin lama semakin susah, dan yang diujikan juga semakin beragam. Terbukti sekarang senyum saja pakai ditarik (angkot kalee ditarik)

Masalah sudah mulai berhamburan dari semenjak awal tahun, layaknya pohon di musim gugur, daunnya berguguran yak seperti itu rasanya satu demi satu numpuk. Awalnya saya yang down, pasangan masih tegar, sekarang keadaan berbalik. Ledakannya ada di dua bulan ini

Ketika saya tidak bisa lagi bilang "Sabar.... Sabar...."

Coba apa yang terlintas di benak kita kalau sahabat, pasangan sedang mengalami tekanan cukup besar. Pasti tak luput kata kata "Sabar, jangan kecewa, jangan marah" akan terucap dari bibir kita. Tapi pernahkah terpikir apa yang mereka rasakan saat mendengar ucapan kita, "annoying".
Kaget? Itu yang saya rasakan, maksud baik malah dianggap mengganggu. Jadi bukan hal positif yang diterima, malah seperti menambah tekanan. 
source

Awalnya saya sempat sedih berat, kenapa maksud baik saya malah dianggap salah. Sempet curhat sma sahabat yg suaminya senior suamiku, dan sering jg memberi masukan kalau down.Ternyata beliaunya yg biasanya tegar jg harus ke rumah sakit, perlu terapi, karena seluruh badan seperti berat sakit untuk digerakkan, duuhhh saya baru sadar ternyata tekanan di tempat kerja memang begitu berat. Terbukti obat yang dibawa suami dari klinik jg sudah satu tas kresek, tapi setiap hari mengeluh lemes, capek. Dari curhat berdua, kami simpulkan jangan menambah kata-kata seperti kesannya menyuruh, apalagi pas sedang keruh-keruhnya wajah. Karena pasangan kami berdua sama-sama bersyndrome yang sama, marah hebat kalau dengar kata-kata itu. Oke, lets not do what he hate the most.

Pukulan terhebat yang meluluh lantakkan hati kami

Saya masih ingat jelas Rabu malam seminggu lalu suami bercerita siapa-siapa saja orang-orang Indonesia yang sedang stress dengan kebijakan-kebijakan kantor. Jumat malam dering telpon di hp suami tapi tak terdengar, dan saat jam 4 pagi kami baru sadar, bahwa seorang sahabat telah berpulang. Seorang sahabat yang seumuran, suami dari seorang blogger yg aktif ngeblog th 2007-2009, sang istri inipun saya kenal dari ngeblog, saat itu beliau masih tinggal di singapura. Dan setelah pindah di Malaysia saya semakin sering cerita-cerita atau sering ketemu disaat acara kantor suami. 

Sungguh tergugu saya pagi itu, dan tidak bisa memejamkan mata kembali sampai subuh menjelang. Heart attack, karena stress dengan kantor beliau seminggu terakhir tidak dapat tidur. Padahal paginya masih ngantor dan pulang seperti biasa. Rasa kaget dan tidak percaya membelenggu kami dan kesedihan luar biasa mengiringi kepergiannya. Putranya yang masih kecilpun belum paham artinya meninggal.
Kepedihan kami makin dalam karena kami tau, pasangan-pasangan kita juga berada dalam fase yang sama, bagaimana caranya kami menyelamatkannya??? Duh kami semua semakin ketakutan...
Note : Buat teman-teman yang tinggal di negara lain, sebaiknya dicek segala ketentuan tentang waris dan lain-lain, seperti di malaysia, semua asset yang dimiliki di bekukan semenjak laporan kematian diterbitkan oleh polisi, apabila ada surat waris berkekuatan hukum negara ybs maka dalam jangka 1-2 bulan sdh dapat dibuka, tapi bila tidak bisa berbelit-belit urusannya s/d 2 tahun

Mendampinginya dalam diam

Mendampingi pasangan yang sedang dalam tekanan bukan hal yang mudah, apalagi mereka menjadi super duper sensitif. Salah-salah bukannya menenangkan malah kita jadi mewek. Tapi penting meniatkan diri untuk membantunya untuk melepas sedikit emosi, masalah-masalah lain singkirkan dulu.
Hal-hal ini yang saya lakukan
  • mensugesti diri sendiri agar jangan khawatir tentang keruwetan masalah, fokus saya buat pasangan senyum walaupun sebentar. Berdoa tak putus dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak mudah tersinggung, sabar, hanya bercerita hal-hal baik, dan bersikap positif. Pasang wajah senyum, kalem. (galaunya diri ditutupin rapat2) 
  • Mengajak anak-anak mennjukkan rasa sayangnya kepada ayahnya dengan cara menyambutnya dengan gembira saat ayahnya pulang, bersikap manis, penurut. 
  • teringat jaman anak-anak masih bayi kalau mereka sedang tantrum saya sering mengelus-elus punggung mereka sampai emosi mereda, saya lakukan itu juga pada pasangan saat emosi tanpa berbicara apa-apa
    source
  • Saya mendorong dia untuk mengungkapkan kesebalan, kemarahan, kestressan, saya jadi bak sampahnya, supaya tidak dipendam sendiri
  • Berusaha tidak menuntut apapun, semua request saya iyakan tanpa protes, disuruh ikut liat FBnya, berita atau apa saja diiyain aja
  • Saya berusaha memastikan suami tidur baru saya merem, jadinya saya juga midnightan, karena suami sering kerja sampai tegah malam. Tapi saya tidak ingin dia merasa susah sendiri.
  • Kalau terlihat sedang santai ucapin satu kata sakti, ayo jangan terlalu fokus sama kesedihan, badan jadi sakit, sehat-sehatin biar masih ada kesempatan beramal untuk hari akhir, amal masih sedikit. Cukup sesekali jangan diulang-ulang daripada malah bikin senewen.
  • Ngegombal sedikit ucapin "All of us will always support you Papa" (nyuplik gombalannya anak wedok) atau juga Don't worry, Allah won't abandon us (Percaya ga percaya ini malah yg rajin bilang begini anak perempuanku hihihihi)
Sementara ini berhasilkah saya???
Belum tau, tapi wajah keruhnya agak bening walau sedikiiitttt. Semoga saja sampai badai berlalu kami diberi kekuatan
Saya jujur tidak tahu apakah cara saya benar atau tidak....
Saya juga belum tahu apalagi yang bisa saya lakukan untuk meringankan bebannya..... (any idea mak)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...