Pages

Tuesday, June 18, 2013

Pembentukan Watak Anak

Semakin menua usiaku, ternyata semakin dibukakan tentang banyak hal. Bisa memahami ketika saat kecil dulu ibu mengajarkan ini itu, seperti harus ikut membantu mengerjakan pekerjaan rumah, padahal ibu memiliki "Yu" istilah ART jaman dulu. Mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan diriku sendiri seperti mencuci baju, menyetrika, merapikan kamar dari semenjak lulus SD, yang buat kebanyakan teman-teman sebayaku saat itu masih dilayani. Harus menyisihkan sendiri dari uang saku yang kupunya apabila aku dimintai sumbangan, kado buat sanak saudara dan lain-lain. Bertanggung jawab memanage uang, termasuk resiko kehilangan, sehingga tak jarang aku berhutang kepada ART atau kakak sepupu yg tinggal dirumah hihihi, tapi dibalikin looo, bukan minta. Membantu ibu mengantarkan barang dagangan, mengepak barang, mengambil uang hasil jualan dan sebagainya, yang mengajarkanku bahwa mencari uang bukan hal yang mudah, dan aku cukup tahu diri tidak meminta2 yang aneh2 kecuali satu, saat ga mau jadi PNS dan minta sekolah lagi *sama aja ya :D*

Ingin sedikit share dari hal2 yang kutemui  mengenai pembentukan watak anak. Beberapa contoh aku ambilkan dari kisah nyata di sekitarku. Semoga bisa menjadi bahan renungan para orang tua bahwa tanggung jawab orang tua tidak hanya sebatas menyekolahkan dan memberi makan saja.

sumber : google

Alkisah aku bertemu dengan ibu fulan 13 tahun lalu, kebetulan aku mengobrol dengannya saat si anak lelakinya baru pulang dari kos2an usianya sudah 17 tahun saat itu. Dia membawa tumpukan cucian kotor dan kemudian berkata "Bu, baju kotorku di cuciin!". Aku bertanya kepada sang ibu kenapa sudah seusia itu barang kotor di kos harus dibawa pulang. Dengan bangga sang ibu menjawab, kalo anak-anaknya disiapkan menjadi anak terhormat yang tidak perlu bersusah payah dengan pekerjaan rumah tangga, lagi pula toh ada pembantu. Dia tidak ingin anaknya sengsara. (bertanggung jawab pada diri sendiri dianggap sengsara????). 
13 Tahun kemudian terjadi percakapan kembali denganku kini beliau bercerita sambil berurai air mata, beliau sudah jatuh sakit dan dirumahnya dia tinggal dengan anak lelaki dan menantunya. Anak lelaki hanya bekerja alakadarnya, kalo ada yg mengingatkan untuk bekerja ke luar kota jawabnya simpel "Aku tidak mau sengsara!" dan kondisi rumahnya sangat memprihatinkan, kanan kiri penuh semak belukar seperti rumah yg ditinggal tanpa penghuni.  Dia bercerita anak dan menantunya jangankan membantu dia, menyapu, mencuci dan menyetrika pakaiannya saja tidak mau. Ketika beliau mengeluh, aku menjawabnya "bagaimana ibu mendidiknya dulu?" Batinku menjawab inilah hasil didikan yg tidak menginginkan anak sengsara.

Dikisah lain :

Seorang ayah membandingkan dua anak lelakinya. Anak yg pertama (Udin) adalah anak yang selalu menerima uang sakunya dan apabila ada keperluan lain dia meminta lagi kepada orang tuanya. Anak kedua (amir) dia menggunakan uang sakunya juga untuk memenuhi kebutuhan2 lainnya. Suatu waktu sang ayah sedang mengalami kesulitan keuangan memanggil kedua putranya, menanyakan kalo sang ayah hendak meminjam tabungannya. Udin mengatakan tidak memiliki uang, sedang Amir menyerahkan uang tabungan yg dimilikinya tanpa banyak berkata-kata. Ketika Udin mengetahui jumlah uang yg dimiliki Amir, dia berkata, bahwa uang tabungannya jauh lebih banyak. Tapi sang ayah bukannya mengapresiasi apa yg dilakukan Amir, beliau menegur  karena tidak memiliki tabungan yg sebanyak kakaknya. Ketika mereka dewasa Udin menjadi pribadi yang memang suka menabung tapi tak pernah peduli apabila ada keluaga, orang tua jatuh sakit. Dia tega menutup matanya. Salah siapa?????

sumber : google


Ada pula cerita dimana orang tuanya bersikap selalu meminta kepada salah satu anaknya, yg merasa berkecukupan. Dia tidak mencontohkan mengucap terima kasih. Dia juga tidak pernah mengajarkan memberi sesuatu yg dianggap cukup berharga kepada orang lain kecuali barang2 tak cukup berharga. Kebiasaan  ini rupanya ditiru oleh anak2nya yang lain. Ketika ada yang membutuhkan, tidak ada anak2 lain yg mau mengulurkan tangan, semua membutakan mata. Tapi kalo soal meminta si anak2 orang tua ini menjadi nomer satu dan tak ada timbal balas bahkan terima kasih. Bisa dipastikan kebiasaan orang tua itu direkam oleh anak2nya, maka janganlah berharap banyak kalo nanti anak2nya bisa berubah menjadi anak luar biasa baik, kalaulah itu yang dicontohkan.

Berhati-hatilah wahai orang tua, watak yang baik dari anak bukan jatuh dari langit. Tapi perlu diajarkan dan diberikan contoh. Tidak cukup hanya pendidikan yang tinggi, karena contoh di atas kebetulan menimpa keluarga dengan anak2 berpindidikan tinggi bahkan PTN yg waktu itu masih hanya ditempati oleh orang2 yang cerdas bukan monopoli orang kaya. Mulailah memperhatikan anak2 kita, bagaimana mereka bertingkah laku, karena dengan begitu kita bisa membetulkan apabila ada yang salah. Bimbinglah mereka sebaik-baiknya, jangan dengan alasan karena tidak tega,  Kebahagiaan kita di masa tua adalah melihat anak2 soleh solihah yang menyejukkan hati, dan itu perlu usaha yang tidak mudah.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...