Pages

Thursday, November 22, 2007

RELA (pasukan sukarelawan) GAK RELA ....

Makin lama rasanya gerak hidup WNI disini semakin tidak nyaman.. RELA tambah garang sekarang. Nyaris tiap kali pergi harus bawa2 paspor.. duh ga bisa bawa tas tangan kecil lagi habis yg diangkat 4 pasport... hiks.. Setelah pas pelajar gak diakui, kemungkinan besar pas karyawan jg gak tambah repot deh.. RELA lebih garang dari imigrasi.. di imigrasi pas itu masih dianggap kalo RELA mah kagak... Gimana gak sekali tangkap 1 orang pendatang haram RELA dapet komisi RM80 or 200 ribu rupiah lebih lo...

Jadi walo cuma ke pasar atau ke kedai beli top-up ya tetep mesti bawa paspor... ancur lagi kalo lupa bawa paspor HP ketinggalan.. kagak inget no HP suami ato telp rumah (kayak aku ni gak bisa ingat nomor..) wah bakalan gawat kalo ketangkap.. pasti dituduh pendatang haram. Glekkk.. serem deh... Makanya kalo pergi2 harus bawa paspor... surat lain kagak berlaku... soalnya RELA cuma tau paspor.. huhuhu... Nah kalo ilang bagemane..mane disini banyak orang jahat "YAH ITU SALAH SENDIRI... KAGAK BISA BAWA PASPOR BAIK2" Kalo hujan basah begimane.. "ye tuh paspor plastikin dulu sebelum masuk tas.."

Ada cerita di bawah (diambil dari milist indo_KL) sekedar buat pertimbangan buat yg mo sekolah disini... pelajar asing jg gak dihargai lo... apalagi orang Indonesia yang dianggap banyak melakukan kejahatan (hihhhh sebellll kalo orang mereka melakukan kejahatan ke WNI kagak diekspose mesti aja ....) Kalo yg mo cari kerja sih gpp cuma ati2 ya... ato mo melancong ke sini.. jangan lupa bawa paspor kemane aje kaki melangkah ya... Maklum di sini kagak senyaman negri tetangga lain ada RELA yg bikin kita selalu GAK RELA ...grrrrrr...

Kuala Lumpur-RoL --

Mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Malaysia semakin tidak nyaman dan resah setelah pihak berwenang di negara tersebut mewajibkan mahasiswa asing membawa paspor asli jika ke luar kampus. "Kami semakin tidak nyaman dan takut nih. Masa kemana-mana mesti> bawa paspor. Buat apa Kerajaan Malaysia mengeluarkan kartu pas pelajar," kata Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) M Yunus Lubis dan mahasiswa S2 di Universiti Malaya, Alia, di Kuala Lumpur, Jumat (16/11).

Kewajiban mahasiswa harus membawa paspor asli tersebut dikemukakan saat pertemuan Kementerian Pengajian Tinggi, Polisi, Imigrasi, dan pasukan sukarelawan (Rela) dengan wakil mahasiswa antarbangsa di Putrajaya, Kamis. Selain Indonesia, perwakilan mahasiswa negara lainnya yang hadir berasal dari Cina dan Pakistan. Para mahasiswa asal Indonesia semakin resah karena sebelumnya mereka memrotes sikap Rela yang mendobrak pintu ketua PPI UKM M Yunus Lubis,Ahad, (7/9) hanya untuk memeriksa identitas.

"Kami mendengarkan penjelasan dari Rela, Imigrasi, dan polisi Malaysia. Dalam pertemuan itu, mereka menegaskan bahwa setiap mahasiswa asing di Malaysia wajib membawa paspor kemana pun pergi. 'Pas student' (pas> pelajar) yang dikeluarkan Imigrasi Malaysia hanya berlaku di dalam kampus," kata Yunus. Sebelumnya, seluruh mahasiswa mendapatkan pas pelajar sebagai pengganti paspor. Alia merasa heran karena peraturan dan kebijakan dibuat seenaknya. Ia juga bertanya jika paspor itu basah karena naik motor atau hilang. Namun, kata Alia, pihak Malaysia menjawab, "Itu salah kalian tidak bisa menjaga baik paspor kalian".

Bahkan wakil Rela, Zubir bin Mustofa, mengatakan bahwa Rela punya wewenang melakukan operasi tanpa perlu didampingi oleh polisi dan petugas imigrasi.

"Kami bisa melakukan operasi seperti polisi dan imigrasi, punya wewenang mendobrak rumah, membawa senapan, dan membawa borgol serta memborgol pendatang haram," katanya.

Alia kemudian bertanya, mengapa petugas Malaysia lebih sering mengejar orang Indonesia. Dijawab wakil polisi, memang banyak tindak kriminal dilakukan pendatang asing, baik dari Indonesia, Myanmar, atau bangsa lain. Pelakunya ada yang pekerja atau pelajar asing.



Sesalkan

Atase Pendidikan KBRI Kuala Lumpur, Imran Hanafi, menyesalkan kebijakan yang semena-mena dari pihak kerajaan Malaysia. "Padahal beberapa waktu lalu kementerian pengajian tinggi mengatakan akan mengeluarkan kartu pas pelajar yang baru sebagai pengganti paspor. Kok bisa berubah begitu," katanya.

Presiden PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Malaysia, Muhammad Iqbal, juga sangat menyesalkan kebijakan tersebut. Ia akan mengadakan rapat dengan pengurus untuk menentukan sikap.

Ada sekitar 26.000 mahasiswa Indonesia belajar di Malaysia. Ada kemungkinan mereka akan kampanye ke Indonesia pada liburan semester tahun ini ke kampus-kampus dan SMA favorit agar tidak atau jangan kuliah di Malaysia.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...